Asupan Imajiner

18 Jan 2025

Kalau aku ingat-ingat, salah satu yang membuatku rileks dan syaraf kendor adalah "Kuda Terbang Maria Pinto".

Kumpulan cerpen Linda Christanty yang kulahap saat kelas 2 SMP. Di saat buku tebal J. K. Rowling menjadi gunjingan kawan-kawan, aku lebih memilih menikmati buku pemberian paman, lebih tipis.

Foto oleh Rendika

Tak luput "Deru Campur Debu"-nya Chairil Anwar. Juga buku Sjumandjaja yang menceritakan pelaku yang sama. Belakangan kutahu buku itu muncul sebagai gadget milik Rangga dalam film AADC.

Di tahun-tahun itu juga aku mengenal lebih dalam tentang Rendra. Kumpulan puisi dan cerpennya pun kukoleksi. Tentu saja gaya bahasanya tak sepenuhnya dengan mudah masuk seleraku.

Memang tak semuluk Kahlil Gibran, tapi bagiku yang saat itu baru mulai jatuh cinta pada buku, cerpen-cerpen Linda Christanty lebih mudah kucerna. Dilanjut dengan "Rahasia Selma" yang kudapatkan beberapa tahun kemudian.

Ada yang menarik perihal buku itu bagiku. Tahun 2011, penulis cerpen kegemeran itu datang ke Yogyakarta dalam rangka diskusi buku barunya; "Jangan Tulis Kami Teroris". Tak ingin ketinggalan momen, aku pun hadir sekalian minta tanda tangan.

Aku memang lebih menyukai cerpen daripada novel. Sama halnya dengan lebih senang menonton film dibanding serial.

Maka seringnya kuhabiskan waktu di perpus SMP membaca majalah Horison. Ah, kini apa kabar majalah sastra itu?

Dari Horison aku mengenal Danarto dengan "Godlob" dan "Mereka Toh Tidak Mungkin Menjaring Malaikat". Dua cerpen yang benar-benar gila. Daya hayalku yang saat itu masih kelas 2 SMP diobrak-abrik sedemikian rupa.

Akses buku kala itu bagiku hanya Perpus Muntilan. Perpus milik pemda yang tentu saja koleksinya tidak se-skena Gramedia.

Maka ketika kini ada taman baca bertebaran di sekitar kok rasanya ikut berbahagia. Adalah Rendika kawan sependakian dan Rimi kenalan di X (Sebelumnya Twitter) yang merujukku ke Melek Huruf. Sebuah taman baca yang ada di Borobudur.

Satu saat aku pun ingin membangun tempat serupa di salah satu sudut rumah. Tak perlu besar-besar. Cukup untuk anak-anakku menyukai baca.

Kalau tertarik, sila tulis surel agar tulisan terbaru bisa aku kirim langsung ke inbox-mu.


© 2009 - 2025 Arif
Borobudur, Indonesia