Gergasi dan realitas imajiner

25 Nov 2024
Gergasi dan realitas imajiner

Desa Mendut, suatu pagi sekitar 90-an.

Para siswa berkumpul di halaman sekolah dan menengadah ke langit sambil mengamati matahari. Kabar bahwa matahari akan lenyap beredar luas hingga ke telinga kami yang masih SD.

"Akankah benar-benar menghilang dimakan Buto Ijo?".

Kala itu narasi demikian menjadi keniscayaan di lingkunganku. Atau setidaknya mulai pudar, namun sebagian sisi hati masih menyakini.

Aku yang waktu itu belum khitan pun penasaran. Apakah benar makhluk-makhluk yang diraksasakan itu sungguh ada? Ataukah hanya fiksi yang diwariskan lintas generasi?

Dalam cerita rakyat, ada beberapa tokoh yang aku anggap memiliki karakteristik gergasi.

Dalam kisah Timun Mas, gergasi digambarkan sebagai makhluk besar, menyeramkan, dan memiliki kekuatan luar biasa. Kisah-kisah dari epos Ramayana dan Mahabharata pun sering menampilkan sosok Buto, seperti Kumbakarna dan Buto Cakil.

Penggambaran ini tidak muncul begitu saja, melainkan berasal dari interpretasi terhadap sifat-sifat tertentu yang diperbesar menjadi simbol.

Mereka adalah representasi kekuatan yang menakutkan, personifikasi dari ketakutan akan sesuatu yang "lebih besar" dariku. Padahal, juga sering digambarkan lamban secara berpikir atau mudah ditipu. Misal, di cerita Timun Mas.

Atau, adalah metafora untuk ego manusia yang terlalu tinggi. Mereka mungkin merasa tidak terkalahkan, tetapi dalam banyak cerita, gergasi dihancurkan oleh kelemahan mereka sendiri—baik karena kesombongan, kerakusan, atau ketidakmampuan untuk memahami sesuatu yang lebih kecil tetapi lebih cerdas.

Apakah semua gergasi itu jahat? Tidak.

The BFG (Big Friendly Giant) misalnya, raksasa digambarkan sebagai makhluk ramah yang berteman dengan seorang gadis kecil.

Derau perihal gergasi versiku yaitu:

  • Ketakutan besar yang harus dilawan.
  • Ego atau ambisi yang harus dikendalikan; yang sering kali membesar, membuat sulit menerima kritik atau berubah.
  • Kekuatan internal yang belum dimanfaatkan.

Yang baru-baru ini terjadi padaku adalah ketakutan untuk masuk ke ruang liminal.

Atau ketika sholat,

Setiap kali kuangkat dua tangan lalu meletakkannya diantara dada dan pusar, sejumlah pikiran melintas dan perlahan membuyarkan.

Sementara itu sesuatu yang membuyarkan, entah sesuatu keinginan atau ketakutan akan kehilangan, semua itu berada di tangan Dzat yang dihadapan-Nya aku berdiri.

Adakah gergasi versimu?

Kalau tertarik, sila tulis surel agar tulisan terbaru bisa aku kirim langsung ke inbox-mu.


© 2009 - 2025 Arif
Borobudur, Indonesia