Makanan paling membahagiakan awal tahun ini adalah Tenderloin Double dari Waroeng Steak.
Sebagian orang menganggap menu ini biasa saja. Bagiku, kenikmatannya mampu mendatangkan dopamin pada simpul-simpul memori.
Dalam waktu kurang dari dua pekan, aku telah menjadi returning customer mereka. Tiga kali memesan menu yang sama. Tanpa ragu.
Sejujurnya aku telah menahan cukup lama untuk memesan kuliner ini di dekat stasiun Tebet.
Beberapa bulan lalu ketika pulang kantor dan melewati warung makan ini rasanya kok liurku membanjr. Melihat orang-orang makan di dalamnya nan penuh nikmat.
Melemparku ke masa ketika menjadi mahasiswa tahun awal. Di Seturan, selatan Selokan Mataram, aku hanya melewatinya saja tanpa bisa mampir untuk mencicipi daging bertepung yang tersaji pada hot plate itu.
Bukannya tidak mampu untuk membelinya. Bukan, bukan itu.
Hanya saja kala itu perlu menyisihkan anggaran konsumsi mingguan. Jadilah, warung itu berada di urutan bawah dalam daftar pada skala prioritas untuk konteks pertolongan pertama perut keroncongan.
Maklum, mahasiswa pas-pasan.
Tak ada kenangan khusus tentangnya. Tahun baru ini aku tak dapat menahannya lagi. Waroeng Steak di Pandega Jogja kujadikan target.
Sebab ingin yang tertahan, menjadikannya bumbu tambahan. Tak sekedar enak, pun membahagiakan.
Asli.