Kedua anakku, Laire Btari dan Jangkah Sae, saat ini tengah gemar menggambar pada lembar kertas.
Aku tak pandai memaknai goresan abstrak mereka. Jadi harus kutanyai gambar mereka dengan rinci jika bagiku tak cukup konkret.
Dua bulan lagi putriku usia 5 tahun dan adiknya terpaut 17 bulan. Memang, jarak usia menjadikan putriku lebih konkret menggambar. Tapi, Sae pun tak kalah ekspresif dalam menggoreskan tinta.
Aku menemukan gambar menarik dari Laire. Pada kertas putih dia menggambar rumah, Ibu, Laire dan Sae yang digendong Ayah. Tak lupa balon dan bendera. Di atas ada langit berwarna biru.
Ada juga gambar ikan paus yang beeessar sekali.
Kutemui juga goresan-goresan Sae. Misal gambar Ibu yang sedang ganti baju dengan sisir yang besar di sebelahnya. Pada frame yang sama ada juga matahari dan langit.
Anak-anak memiliki cara unik dalam melihat dan memahami dunia, penuh dengan imajinasi dan kebebasan. Pada usia ini, mereka sering kali bersifat egosentris, melihat dunia dari perspektif mereka sendiri. Hal ini tercermin dalam gambar mereka, di mana mereka menggambarkan apa yang penting bagi mereka atau apa yang mereka alami secara langsung.
Proses kreatif anak-anak bersifat intuitif dan spontan. Mereka tidak terikat oleh aturan atau norma yang sering kali membatasi kreativitas orang dewasa. Ketika mereka menggambar, mereka menuangkan perasaan dan pikiran mereka secara langsung tanpa merasa perlu mengikuti aturan realisme.
Jika kita bertanya kepada anak-anak tentang gambar mereka, kita sering kali mendapatkan wawasan yang mengejutkan. Misalnya, ketika ditanya tentang gambar sekumpulan titik pada kertasnya, Sae berkata, “Ini adalah kuman-kuman, mereka di bawah nggak bisa ke tempat tidur.” Jawaban ini mengkonfirmasi interpretasiku tentang simbol-simbol dalam gambar tersebut.
Aku jadi ingat Pablo Picasso pernah bilang, "Every child is an artist. The problem is how to remain an artist once we grow up."