Teruntuk Laire Btari
Masih ingat betul bagaimana perjumpaan pertama kita pagi itu.
Tangan kecilmu yang mencoba meraih sesuatu. Kini tangan itu lebih sibuk; memegang pensil, buku, gelas es teh, yang kamu bangga bisa meminumnya sejak dwi warsa lalu.
Rasanya baru kemarin kamu bertanya kenapa orang meninggal di sela pilow talk dengan struktur kalimat yang belum rapi, imbuhan yang masih sering tertukar dan lafal a la balita.
Dulu aku bacakan cerita menjelang tidur, sekarang kamu yang punya ceritamu sendiri.
Kamis lalu baru saja mendapat rapor elementary pertamamu. Kamu tuliskan tajuk "portfolio" pada sampulnya.
Hari ini kamu tujuh.
Entah seperti apa kamu kelak. Katamu ingin jadi dokter, lalu belakangan berganti ingin jadi perawat.
Kamu masih boleh berubah pikiran, pun salah. Dunia akan cukup banyak waktu untuk mengajarimu bagaimana sesuatu seharusnya.
Kamu masih boleh menggambar rumah dengan dinding tinggiii sekali. Pun, ikan paus berkepala besar jika menurutmu memang seharus seperti itulah ikan paus.
Hari ini kamu tujuh.
Katamu ingin sekali makan sushi. Spesifik sushi AEON. Maka berangkatlah kita ke Sentul sore tadi.
Ketika kamu baca tulisan ini artinya usiamu sudah jauh dari tujuh.
Ketahuilah bahwa pernah ada anak perempuan tujuh tahun yang membuat rumah menjadi ramai, dan lengkap. Anak perumpuan yang tengah bertumbuh tanpa meminta izin kepada waktu. Anak yang kami sayangi, Laire Btari.
Selayang kabar
Sesekali aku menulis. Kalau berkenan, tinggalkan surel, biar kabarnya sampai tanpa kamu perlu mampir.